Rabu, 07 April 2010

Profil Kabupaten Lamongan



Kabupaten Lamongan secara geografis terletak 651'54" - 723'06" Lintang Selatan dan 11233'45" - 11233'45" Bujur Timur. Wilayah Kabupaten Lamongan di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Gresik, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Tuban dan Bojonegoro sedangkan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto dan Jombang. Luas wilayah Kabupaten Lamongan 1.812,80 Km2 yang terbagi menjadi dua puluh enam kecamatan dengan Lamongan sebagai ibukota Kabupaten Lamongan.

Kabupaten ini merupakan salah satu penghasil beras terbesar di Jatim. Setiap tahun produksi beras lamongan mencapai rata-rata 441.000 ton. Konsumsi penduduk hanya 36 persen selebihnya dijual keluar daerah antara lain Surabaya, Malang, dan Madura. Peran 10 waduk yang tersebar di lamongan wilayah selatan ini turut memicu peningkatan produksi padi.

Disektor industri, Kabupaten Lamongan sedang mengembangkan industri pengolahan bahan baku ikan di kawasan sebelah utara. Sebagai penghasil ikan laut yang mencapai 38.915 ton, kabupaten yang memiliki bibir pantai sepanjang 47 kilometer ini baru mengolah 30 persen hasil tangkapannya menjadi tepung ikan. Selebihnya industri yang berbahan baku ikan masih terbuka lebar.

Lamongan juga berpredikat sebagai penghasil kapas terbesar di Jatim sekaligus menjadi pusat percontohan budi daya kapas di Indonesia. Tanaman jagung juga merupakan produk unggulan dari Lamongan. Tanaman jagung benih hibrida ini telah mencapai 75 persen dari areal tanaman jagung seluas 48.000 hektar.

Dari sektor perdagangan , berbagai hasil kerajinan, seperti kerajinan kayu, emas, perak, tembikar dan keramik, kulit dan anyam-anyaman tidak hanya mampu menembus Jatim tetapi juga pasar luar negeri.

Lamongan memiliki sejumlah obyek wisata menarik. Di daerah pantai terdapat obyek wisata Monumen Van der Wijck Waduk Gondang Pantai Tanjung Kodok dan Wisata Bahari Lamongan/Jatim Park-2. Gua Maharani terletak di Kecamatan Paciran, di tepi jalur utama pantura, merupakan gua kapur yang sangat indah. Tak jauh dari Gua Maharani, terdapat Makam Sunan Drajat dan Makam Sunan Sendang Duwur, yakni penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Kedua makam tersebut memiliki arsitektur yang sangat dipengaruhi oleh Majapahit. Di dekat kompleks makam terdapat Museum Sunan Drajat.


Sumber Data:
Jawa Timur Dalam Angka 2007
(01-9-2007)
BPS Propinsi Jawa Timur
Jl. Raya Kendangsari Industri 43-44, Surabaya
Telp (031) 8438873
Fax (031) 8494007



Sumber:

http://regionalinvestment.com/sipid/id/displayprofil.php?ia=3524


Sumber Gambar:

http://www.eastjava.com/tourism/lamongan/map/lamongan-map.png

Peta Lamongan


View Larger Map

Asal-usul Patih Gajah Mada Asli Lamongan Diteliti

Pemerintah Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, membentuk tim untuk penelusuran sejarah Gajah Mada. Tim diarahkan pada penggalian data menyangkut kemungkinan bahwa Maha Patih Majapahit yang dikenal dengan Sumpah Palapa itu berasal dari Lamongan.

Tim yang dibentuk oleh Bupati Masfuk dan mulai bekerja pekan ini diperkuat sejumlah budayawan. Pelaksana tugas Asisten Administrasi Lamongan, Aris Wibawa, kemarin mengatakan tim akan melakukan riset sejarah Gajah Mada di sejumlah museum di Surabaya, juga Trowulan, Mojokerto, dan beberapa tempat peninggalannya. 

Aris menyebutkan, dalam seminar dan rembuk budaya di Lamongan beberapa waktu lalu, dibahas keberadaan dan asal-usul Gajah Mada. Budayawan Lamongan Viddy A.D. Daery menyebutkan sejumlah cerita rakyat mengisahkan bahwa Gajah Mada adalah anak kelahiran Desa Mada (sekarang Kecamatan Modo, Lamongan). Di zaman Majapahit (1293-1527), wilayah Lamongan bernama Pamotan.

Berdasarkan cerita rakyat, Gajah Mada adalah anak Raja Majapahit secara tidak sah (istilahnya lembu peteng atau anak haram) dengan gadis cantik anak seorang demang (kepala desa) Kali Lanang. Anak yang dinamai Joko Modo atau jejaka dari Desa Mada itu diperkirakan lahir sekitar tahun 1300.

Kakek Gajah Mada, yang bernama Empu Mada, membawa Joko Modo ke Desa Cancing, Kecamatan Ngimbang. Wilayah yang lebih dekat dengan Biluluk, salah satu pakuwon di Pamotan, benteng Majapahit di wilayah utara. Sedangkan benteng utama berada di Pakuwon Tenggulun, Kecamatan Solokuro.

Salah satu bukti fisik bahwa Gajah Mada lahir di Lamongan ialah situs kuburan Ibunda Gajah Mada di Desa Ngimbang. Digambarkan, Joko Modo ketika itu berbadan tegap, jago kanuragan didikan Empu Mada. Di kemudian hari, dia diterima menjadi anggota Pasukan Bhayangkara (pasukan elite pengawal raja) di era Raja Jayanegara.

Ia menyelamatkan Jayanegara yang hendak dibunuh Ra Kuti, patih Majapahit. Gajah melarikan Jayanegara ke Desa Badander (sekarang masuk wilayah Bojonegoro) di wilayah Pamotan. Dari bukti-bukti itu, tim pelacakan Gajah Mada akan membuat dokumen. Tim akan bekerja sekitar enam bulan langsung di bawah pengarahan bupati.

SUJATMIKO


Sumber:
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/06/22/brk,20090622-183038,id.html
22 Juni 2009

Nama dan Sifat Orang Lamongan

Nama Lamongan berasal dari kata “Lamong” bahasa Jawa Kuno menjadi Lamongan, seperti Surabaya menjadi Surabayan, Madura menjadi Maduran, Sawah menjadi Sawahan, Semarang menjadi Semarangan, Tuban menjadi Tubanan dll. Lamong berarti gila, meraban, meracau, gila asmara, tergesa-gesa, tipis, tembus pandang, cepat, (ekstrem kan artinya?) menurut kamus bahasa Jawa. Lamong terdiri dari dua suku kata, yaitu “la” dan “among” bahasa Sansekerta (Jawa Kuno) yaitu la = panjang, sulit ; among = memelihara, menguasai, melindungi, membina, mengayomi. Tapi arti sesungguhnya adalah "sulit dikuasai"

Kata “Lamongan” banyak dipakai orang antara lain nama Plamongan di Semarang, Kali Lamong dan desa Lamongrejo di Kecamatan Ngimbang, dan ada Gunung Lamongan. Dengan penjelasan bahwa Gunung Lamongan ditempati makam salah seorang Tumenggung Lamongan yang anti Belanda, juga merupakan gunung berapi yang kawahnya selalu berpindah menjadi Ranu.
Sifat orang Lamongan mengutamakan kebersamaan, suka berjuang, ulet berkerja, agamis, terbuka, halus, perasaan, jujur, penuh tanggung jawab, dan petualang (bangga kan jadi orang Lamongan?). Namun, kadang kala kaku dan kasar bila tidak diajak musyawarah, suka merantau, berani membela sebuah kejujuran, tidak garang, dan suka membantu (ehem). Bahasa orang Lamongan adalah bahasa pesisir yang lugas penuh dialek Osing, Madura, Jawa Ngoko, diwarnai budaya Arek atau Bocah (Singosari atau Majapahit).

Orang Lamongan suka berjuang, hal ini dapat dibuktikan bahwa zaman Majapahit orang Lamongan banyak yang menjadi pasukan tempur Majapahit sejak kekuasaan komando Mahapatih Gaja Mada sebagai pasukan darat dan laut. Adipati Unus waktu menyerang Malaka 1513 M dibantu orang Lamongan yang dinamakan Pangeran Sabrang Lor yang kini makamnya berada di Banten. Perang melawan sekutu tanggal 10 November 1945 di Surabaya juga banyak orang Lamongan yang ambyur dalam perjuangan ini dalam laskar Hizbullah-Sabillilah. Tahun 1966 juga tidak sedikit andil perjuangan rakyat untuk ikut menumpas pemberontakan PKI dalam G.30S/PKI sampai ke akar-akarnya.

Sekarang tambah bangga kan menyandang gelar “warga Lamongan” ?


Sumber :
http://lamongan-kota.blogspot.com/

Kabupaten Lamongan


Kabupaten Lamongan merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Timur, yang luas wilayahnya mencapai 1.812,80 Km2, meliputi 27 kecamatan, dan penduduknya sekitar 1.393.131 jiwa. 

Lamongan memiliki sejumlah obyek wisata menarik, seperti; Monumen Van Der Wijck, Waduk Gondang, dan Pantai Tanjung Maharani dengan gua kapur yang sangat indah di Gua Maharani, serta Makam Sunan Drajat dan Sunan Duwur. Kedua makam itu memiliki arsitektur yang dipengaruhi arsitektur Majapahit. 

Pertanian merupakan sektor perekonomian yang dominan di Lamongan. Daerah pesisirnya merupakan kawasan nelayan dan tambak yang potensial. Selain itu ekonomi Lamongan juga ditopang jalur perdagangan. Dominasi sektor pertanian dalam nilai PDRB mencapai 44,53 persen, disusul sektor perdagangan, hotel dan restoran 28,96 persen, dan sektor jasa-jasa. 

Hasil pertanian yang menonjol antara lain padi mencapai 719.309 ton, jagung 221.451 ton, ubi kayu 46.114 ton, kacang tanah 7.559 ton, kacang hijau 9.510 ton, dan kedelai 29.984 ton. Hasil buah-buahan dan sayuran masing-masing mencapai 6.246 ton dan 7.179 ton. Semua hasil pertanian itu terkonsentrasi di Kecamatan Kedungpring, Sukodadi, Turi, Solokuro, Sambeng, Brondong, Blubuk, Sukorame, Ngimbang, Kembangbahu, Sarirejo, dan Tikung. Dalam lima tahun terakhir hampir semua jenis tanaman sayur-sayuran mengalami penurunan produksi, sedangkan tanaman buah-buahan terjadi kecenderungan peningkatan produksi. 

Hasil perikanan daerah Lamongan adalah sebagai berikut; ikan sungai mencapai 942,27 ton, ikan rawa 734,27 ton, ikan kolam 795,52 ton, ikan tambak 2.241,87 ton, ikan waduk 406,16 ton, dan ikan tambak 23.216,65 ton. Produksi perikanan tersebut terkonsentrasi di Kecamatan Sekaran, Babat, Laren, Turi, Brondong, Deket, Glagah, dan Turi. 

Dengan melihat data di atas sebaiknya daerah Lamongan tetap mempertahankan klaster hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan. Tetapi ke depan perlu disertai upaya untuk terus mengembangkan industri hasil olahan pertanian dan perkebunan, serta memajukan usaha perdagangan. 


Sumber:
http://www.cps-sss.org/web/home/kabupaten/kab/Kabupaten+Lamongan

Sumber Gambar:
http://adrenaline.ucsd.edu/HybridEnvironments/indonesia_trip/links/eastjava/pkab-lamongan.gif

Makam Sunan Drajat


Sejarah singkat 

Sunan Drajat bernama kecil Syari fuddin atau Raden Qosim putra Sunan Ampel yang terkenal cerdas. Setelah pelajaran Islam dikuasai, beliau me ngambil tempat di desa Drajat wilayah Kecamatan Paciran Kabupaten Daerah Tingkat II Lamongan sebagai pusat kegiatan dakwahnya sekitar abad XV dan XVI Masehi. Beliau memegang kendali keprajaan di wilayah perdikan Drajat sebagai otonom kerajaan Demak selama 36 tahun. 
Beliau sebagai Wali penyebar Islam yang terkenal sosiawan sangat memperhatikan nasib kaum fakir miskin, terle bih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial baru memberikan ajaran. Motivasi lebih ditekankan pada etos kerja keras, kedermawanan untuk mengentas kemiskinan dan menciptakan kemakmuran.

Usaha kearah itu menjadi lebih mudah karena Sunan Drajat memperoleh kewenangan untuk mengatur wilayahnya yang mempu nyai otonomi. Sebagai penghargaan atas keberhasilannya menyebarkan agama Islam dan usahanya menanggulangi kemiskinan dengan menciptakan kehidupan yang makmur bagi warganya, beliau memperoleh gelar Sunan Mayang Madu dari Raden Patah Sultan Demak I pada tahun saka 1442 atau 1520 Masehi.
Wewarah pengentasan kemiskinan Sunan Drajat kini terabadikan dalam sap tangga ke tujuh dari tataran komplek Makam Sunan Drajat. Secara lengkap makna filosofis ke tujuh sap tangga tersebut sebagai berikut :
  1. Memangun resep teyasing Sasomo (kita selalu membuat senang hati orang lain).
  2. Jroning suko kudu eling Ian waspodo (didalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada).
  3. Laksitaning subroto tan nyipto marang pringgo bayaning lampah. (dalam perjalanan untuk mencapai cita - cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan).
  4. Meper Hardaning Pancadriya(kita harus selalu menekan gelora nafsu - nafsu).
  5. Heneng - Hening - Henung(dalam keadaan diam kita akan mem peroleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita - cita luhur).
  6. Mulyo guno Panca Waktu(suatu kebahagiaan lahir bathin hanya bisa kita capai dengan sholat lima waktu).
  7. Menehono teken marang wong kang wuto, Menehono mangan marang wong kang luwe, Menehono busono marang wong kang wudo, Menehono ngiyup marang wongkang kodanan.

Menehono mangan marang wong kang luwe, Menehono busono marang wong kang wudo, Menehono ngiyup marang wongkang kodanan.  Maksudnya : 
Berilah ilmu agar orang menjadi pandai, Sejahterakanlah kehidupan masya rakat yang miskin, Ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta beri perlindungan orang yang menderita.

Selain itu dalam sejarahnya Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang Wali pencipta tembang Mocopat yakni Pangkur. Sisa - sisa gamelan Singomeng koknya Sunan Drajat kini tersimpan di Musium Daerah. Untuk menghormati jasa - jasa Sunan Drajat sebagai seorang Wali penyebar agama Islam di wilayah Lamongan dan untuk melestarikan budaya serta benda banda bersejarah peninggalannya Sunan Drajat, keluarga dan para sahabatnya yang berjasa pada penyiaran agama Islam, Pemerintah Daerah Lamongan mendirikan Musium Daerah Sunan Drajat disebelah timur Makam. Musium ini telah diresmikan oleh Gubernur KDH Tingkat I Jawa Timur tanggal 1 maret 1992.

Upaya Bupati Lamongan R. Mohamad Faried, SH untuk menyelamatkan dan melestarikan warisan sejarah bangsa ini mendapat dukungan penuh Gubernur Jawa Timur dengan alokasi dana APBD I yaitu pada tahun 1992 dengan pemugaran Cungkup dan pembangu nan Gapura Paduraksa senilai Rp. 98 juta dan anggaran Rp. 100 juta 202 ribu untuk pembangunan kembali Masjid Sunan Drajat yang diresmikan oleh Menteri Penerangan RI tanggal 27 Juni 1993. Pada tahun 1993 I 1994 pembenahan dan pembangunan Situs Makam Sunan Drajat dilanjutkan dengan pembangunan pagar kayu berukir, renovasi paseban, bale rante serta Cungkup Sitinggil dengan dana APBD I Jawa Timur sebesar RP. 131 juta yang diresmikan Gubernur Jawa Timur M. Basofi Sudirman tanggal 14 Januari 1994.


Sumber:
http://wisatalamongan.com/index.php?idkonten=7

Lamongan Kembali Raih Otonomi Awards


Setelah sempat piala Otonomi Awards gagal diraih ditahun lalu, Kabupaten Lamongan tahun ini kembali raih piala yang diperuntukkan bagi daerah dengan program inovatif tersebut. Sehingga sampai sekarang, Lamongan sudah berhasil meraih delapan kali Otonomi Awards dari Jawa Pos Institue of Pro Otonomi (JPIP) tersebut.

Sementara terkait keberhasilan Lamongan kembali raih Otonomi Awards untuk dua kategori yakni Daerah Dengan Terobosan Paling Menonjol Bidang Pembangunan Ekonomi (grand kategori) dan Daerah Dengan Terobosan Inovatif Bidang Pemerataan Ekonomi (kategori khusus), Masfuk juga sampaikan komentarnya. Menurutnya, dia hanya menerima piala tersebut. Sedang keberhasilan yang diraih itu adalah keberhasilan seluruh masyarakat Lamongan.

 “Piala Otonomi Awards yang saya terima semalam (Kamis, 28/5) adalah wujud dari kerja keras semua masyarakat Lamongan. Dengan diraihnya piala tersebut juga menunjukkan kinerja dan prestasi Lamongan semakin diakui, “ ujar dia.

Selain itu, dari 13 bidang yang dijadikan tolak ukur penilaian dalam Otonomi Awards,  Lamongan juga terima beberapa nominasi lainnya. Yakni, Pelayanan Kesehatan (Region In an Inovative Breakthrough on Health Service) Pelayanan Administrasi Dasar ( Region in an Inovative Breakthrough on Administrative Service) dan Kinerja DPRD. Kemudian Partisipasi Publik dan Pengentasan Kemiskinan (Region in a Leading Commitment on Poverty Alleviation) serta Pemberdayaan Ekonomi Lokal (Region In an Inovative on Local Economic Empowerment).



Sumber:

http://www.lamongan.net/berita/lamongan-kembali-raih-otonomi-awards.html

29 Mei 2009 

Sejarah Hari Jadi Lamongan

DENGAN RACHMAT ALLAH TUHAN YANG MAHA ESA.
RAKYAT DAN PEMERINTAH DERAH TINGKAT II LAMONGAN TELAH BERHASIL MENEMUKAN HARI JADI LAMONGAN, YAITU PADA HARI KAMIS PAHING TANGGAL 10 DZULHIJAH TAHUN 976 HIJRIYAH, ATAU HARI KAMIS PAHING TANGGAL 26 MEI 1569 MASEHI. BAHWA SESUNGGUHNYA HARI JADI ATAU HARI KELAHIRAN LAMONGAN TERSEBUT DIAMBIL DAN DITETAPKAN DARI HARI DAN TANGGAL DIWISUDANYA ADIPATI LAMONGAN YANG PERTAMA, YAITU TUMENGGUNG SURAJAYA.


Waktu mudanya bernama Hadi, karena mendapatkan pangkat rangga, maka ia lalu disebut Ranggahadi. Ranggahadi kemudian juga bernama mBah Lamong, yaitu sebutan yang diberikan oleh rakyat daerah ini.

Karena Ranggahadi pandai Ngemong Rakyat, pandai membina daerah dan mahir menyebarkan ajaran agama Islam serta dicintai oleh seluruh rakyatnya, dari asal kata mbah Lamong inilah kawasan ini lalu disebut Lamongan.

Adapun yang mewisuda Tumenggung Surajaya menjadi Adipati Lamongan yang pertama, tidak lain adalah Kanjeng Sunan Giri IV yang bergelar Sunan Prapen. Wisuda tersebut bertepatan dengan hari pasamuan agung yang diselenggarakan di Puri Kasunanan Giri di Gresik, yang dihadiri oleh para pembesar yang sudah masuk agama Islam dan para Sentana Agung Kasunanan Giri. Pelaksanaan Pasamuan Agung tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Besar Islam yaitu Idhul Adha tanggal 10 Dzulhijjah.

Berbeda dengan daerah-daerah Kabupaten lain khususnya di Jawa Timur yang kebanyakan mengambil sumber dari sesuatu prasasti, atau dari suatu Candi dan dari peninggalan sejarah yang lain, tetapi hari lahir lamongan mengambil sumber dari buku wasiat. Silsilah Kanjeng Sunan Giri yang ditulis tangan dalam huruf Jawa Kuno/Lama yang disimpan oleh Juru Kunci Makam Giri di Gresik. Almarhum Bapak Muhammad Baddawi di dalam buku tersebut ditulis, bahwa diwisudanya Tumenggung Surajaya menjadi Adipati Lamongan dilakukan dalam pasamuan agung di Tahun 976 H. Yang ditulis dalam buku wasiat tersebut memang hanya tahunnya saja, sedangkan tanggal, hari dan bulannya tidak dituliskan.   

Oleh karena itu, maka Panitia Khusus Penggali Hari Jadi Lamongan mencari pembuktian sebagai dasar yang kuat guna mencari dan menetapkan tanggal, hari dan bulannya. Setelah Panitia menelusuri buku sejarah, terutama yang bersangkutan dengan Kasunanan Giri, serta Sejarah para wali dan adat istiadat di waktu itu, akhirnya Panitia menemukan bukti, bahwa adat atau tradisi kuno yang berlaku di zaman Kasunanan Giri dan Kerajaan Islam di Jawa waktu itu, selalu melaksanakan pasamuan agung yang utama dengan memanggil menghadap para Adipati, Tumenggung serta para pembesar lainnya yang sudah memeluk agama Islam. Pasamuan Agung tersebut dilaksanakan bersamaan dengan Hari Peringatan Islam tanggal 10 Dzulhijjah yang disebut Garebeg Besar atau Idhul Adha.

Berdasarkan adat yang berlaku pada saat itu, maka Panitia menetapkan wisuda Tumenggung Surajaya menjadi Adipati Lamongan yang pertama dilakukan dalam pasamuan agung Garebeg Besar pada tanggal 10 Dzulhijjah Tahun 976 Hijriyah. Selanjutnya Panitia menelusuri jalannya tarikh hijriyah dipadukan dengan jalannya tarikh masehi, dengan berpedoman tanggal 1 Muharam Tahun 1 Hijriyah jatuh pada tanggal 16 Juni 622 Masehi, akhirnya Panitia Menemukan bahwa tanggal 10 Dzulhijjah 976 H., itu jatuh pada Hari Kamis Pahing tanggal 26 Mei 1569 M.

Dengan demikian jelas bahwa perkembangan daerah Lamongan sampai akhirnya menjadi wilayah Kabupaten Lamongan, sepenuhnya berlangsung di jaman keislaman dengan Kasultanan Pajang sebagai pusat pemerintahan. Tetapi yang bertindak meningkatkan Kranggan Lamongan menjadi Kabupaten Lamongan serta yang mengangkat/mewisuda Surajaya menjadi Adipati Lamongan  yang pertama bukanlah Sultan Pajang, melainkan Kanjeng Sunan Giri IV. Hal itu disebabkan Kanjeng Sunan Giri prihatin terhadap Kasultanan Pajang yang selalu resah dan situasi pemerintahan yang kurang mantap. Disamping itu Kanjeng Sunan Giri juga merasa prihatin dengan adanya ancaman dan ulah para pedagang asing dari Eropa yaitu orang Portugis yang ingin menguasai Nusantara khususnya Pulau Jawa.

Siapakah sebenarnya Tumenggung Surajaya itu ? didepan sudah diungkapkan nama kecil Tumenggung Surajaya adalah Hadi  yang berasal dari dusun Cancing yang sekarang termasuk wilayah Desa Sendangrejo Kecamatan Ngimbang Kabupaten Lamongan. Sejak masih muda Hadi sudah nyuwito di Kasunanan Giri dan menjadi seorang santri yang dikasihi oleh Kanjeng Sunan Giri karena sifatnya yang baik, pemuda yang trampil, cakap dan cepat menguasai ajaran agama Islam serta seluk beluk pemerintahan. Disebabkan pertimbangan itu akhirnya Sunan Giri menunjuk Hadi untuk melaksanakan perintah menyebarkan Agama Islam dan sekaligus mengatur pemerintahan dan kehidupan Rakyat di Kawasan yang terletak di sebelah barat Kasunanan Giri yang bernama Kenduruan. Untuk melaksanakan tugas berat tersebut Sunan Giri memberikan Pangkat Rangga kepada Hadi.

Ringkasnya sejarah, Rangga Hadi dengan segenap pengikutnya dengan naik perahu melalui Kali Lamong, akhirnya dapat menemukan tempat  yang bernama Kenduruan itu. Adapu kawasan yang disebut Kenduruan tersebut sampai sekarang masih ada dan tetap bernama Kenduruan, berstatus Kampung di Kelurahan Sidokumpul wilayah Kecamatan Lamongan.

Di daerah baru tersebut ternyata semua usaha dan rencana Rangga Hadi dapat berjalan dengan mudah dan lancar, terutama di dalam usaha menyebarkan Agama Islam,mengatur pemerintahan dan kehidupan masyarakat. Pesantren untuk menyebar Agama Islam peninggalan Rangga Hadi sampai sekarang masih ada.


Sumber:
http://www.lamongan.net/sejarah-hari-jadi-lamongan.html
8 Juni 2008

'Wisata Bahari Lamongan', Primadona Baru Wisata Jatim


Dulu publik pasti merasa masih asing kalau mendengar nama Pantai Tanjung Kodok dan Gua Maharani. Kedua objek wisata yang terdapat di kabupaten Lamongan ini sebelumnya tak begitu dikenal penghobi wisata jalan-jalan. Kalaupun ada yang sudah pernah kesana, mereka hanya singgah sebentar di dua obyek tersebut.

Sekilas melihat batu berbentuk seperti kodok yang menjadi trade mark dari pantai itu dan berjalan sebentar dalam panasnya Gua Maharani. Minimnya fasilitas membuat para wisatawan hanya sambil lalu saat berkunjung kesana.

Namun sekarang tak lagi seperti itu, bisa dibilang apa yang dilakukan pemkab Lamongan dengan menyulap dua obyek itu menjadi kawasan wisata terpadu 'Wisata Bahari Lamongan (WBL)' sungguh terobosan luar biasa.

Daerah wisata yang bertempat di Jalan Raya Daendeles (Pantura) itu kini mulai terkenal sampai ke luar Lamongan, bahkan hingga ke luar Provinsi Jatim. Kini, tempat itu menjadi salah satu katalog agenda wisata keluarga Jatim. Selain Jatim Park I di Batu, Sengkaling di Malang, atau Pantai Ria Kenjeran di Surabaya, warga Jatim bisa memilih WBL sebagai salah satu tempat tujuan melepas penat bersama keluarga.

Awalnya kawasan yang disajikan dengan konsep one stop service itu dibangun di atas tanah seluas 17 hektar. Untuk ke depanya area wisata itu akan dikembangkan lagi hingga 24 hektar.

Pembangunan pertama area wisata itu mengembangkan kawasan wisata Tanjung Kodok yang disulap menjadi tempat wisata modern dengan aneka fasilitas wisata. Berdirinya WBL adalah hasil kerja sama antara Pemkab Lamongan dan PT. Bunga Wangsa Sejati yang sebelumnya membangun Jatim Park I di Batu. Dari kerja sama itu, kemudian dibentuk PT. Bumi Lamongan Sejati sebagai pihak yang mengelola WBL.

Dengan tiket Rp10.000-Rp15.000 dan tiket terusan Rp25.000-Rp35.000, pengunjung dapat menikmati sedikitnya 20 macam fasilitas wisata.

Aneka fasilitas wisata itu di antaranya adalah arena ketangkasan, insektarium, marina, kolam renang air tawar, kolam renang laut dengan pantai pasir putih buatan, bumper carspace shattlekanolong boatbumper boat, tagada, planet kaca, sarang bajak laut, arena pacuan kuda, dan sirkuit go kart.

Tak hanya itu, pengunjung akan disediakan tempat belanja komplet khas Jatim yang bisa dijumpai di souvenir shop. Di tempat tersebut tersedia produk unggulan, pasar ikan, buah dan sayur, serta pasar hidangan yang dibuka mulai pukul 09.00 sampai 21.00. Daya tarik WBL tidak hanya terletak pada fasilitas wisata yang lengkap. Namun, daya tarik paling berharga terletak pada pemandangan lepas pantai ke Laut Jawa di utara WBL.

Bisa dipastikan, daya tarik WBL semakin memikat saat perluasan tahap kedua kawasan itu rampung. Perluasan WBL mengembangkan kawasan wisata Goa Maharani yang terletak 300 meter sebelah selatan area Tanjung Kodok.

Rencananya, antara kawasan wisata Tanjung Kodok dan Goa Maharani disatukan dalam satu paket wisata bahari. Sebagai sarana penghubung, pengunjung bisa memanfaatkan kereta gantung, sebuah jaringan kereta gantung pertama di Jatim.

Kini, pengembangan sedang difokuskan pada pembangunan hotel dan convention hall di sebelah barat Tanjung Kodok. Bahkan, pembangunan hotel berbintang tiga dengan kapasitas 50-60 kamar itu sudah selesai 70%. Hotel dengan kapasitas 500 pengunjung disiapkan sebagai 'barak penginapan' di mana pengunjung bisa menginap lima sampai 15 orang sekaligus dalam satu kamar.

Lokasi wisata WBL bisa ditempuh dengan kendaraan jenis apa pun. Sebab, letaknya tepat di pinggir Jalan Raya Daendels, Desa Paciran, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Tepatnya satu jam perjalanan arah utara kota Lamongan dan satu setengah jam arah barat kota Surabaya.

Tidak jauh dari tempat itu, sekitar lima kilometer arah timur, pihak Pemkab Lamongan akan mengembangkan sebagai kawasan berikat yang dikenal dengan Lamongan Intregated Shorbase (LIS).

Sementara itu, sekitar enam kilometer arah barat terdapat pelabuhan ikan Brondong yang dilengkapi dengan tempat pelelangan ikan yang sangat dikenal di Jatim. Kawasan wisata ini juga dekat dengan sentra kerajinan emas, batiktulis dan bordir desa Sendang Agung dan Sendang Duwur.

Sungguh konsep bagus yang dikembangkan Pemkab Lamongan dan pengembang Jatim Park ini, wahana rekreasi yang memanfaatkan potensi dari Pantai Tanjung Kodok menjadi begitu menariknya. Tidak hanya memanfaatkan lokasi pantai tapi benar-benar melibatkan pantai sebagai salah satu wahananya. Salah satu alternatif menarik bagi kita terutama yang suka sekali dengan pantai, WBL menjawab semua keinginan kita. Satu catatan saja, jangan lupa pakaisunblock dan minum air yang banyak, karena hawa disana panas sekali. Have fun guys! (cax) 


Sumber:

http://www.kapanlagi.com/a/wisata-bahari-lamongan-primadona-baru-wisata-jatim.html

19 April 2006

Wisata Bahari Lamongan (WBL) - East Java

Wisata Lamongan Membludak

Tahun ini bisa dipastikan kunjungan wisata ke Lamongan akan semakin membludak. Wisata Bahari Lamongan (WBL) yang sudah sedemikian besar mencuri perhatian wisatawan Indonesia tahun ini masih akan ditambah lagi Maharani Zoo & Goa. Sebuah kawasan wisata baru yang terletak di lokasi Goa Maharani dengan mengusung konsep hiburan dan pendidikan.

Untuk Zoo (kebun binatang) & Goa ini, menurut Direktur Utama PT Bumi Lamongan Sejati Ali Muhammad, akan diisi dengan 300 macam binatang dari 111 spesies dunia, dari Afrika Selatan dan Benua Amerika yang akan segera datang dalam bulan ini. Diantara binatang yang akan menjadi andalannya nanti adalah binatang albino (berpigmen putih). Diantara hewan albino yang menghuni Maharani Zoo & Goa ini nanti adalah landak putih, ular putih dan harimau putih yang akan menempati Puri Albino. Pengunjungpun bisa menikmati atraksi feeding animal (memberi makan hewan) di wahana ini, tuturnya saat menemani Bupati Lamongan Masfuk di lokasi Maharani Zoo & Goa.

Sementara Masfuk menyampaikan, kawasan wisata baru ini tidak main-main pendiriannya, karena telah melewati kajian dan sudah dilakukan studi banding ke Singapura. Menurutnya,Maharani Zoo & Goa tersebut baik koleksi binatang maupun fasilitas penunjangnya tidak kalah dengan milik (kebun binatang) Singapura.

Lokasi Maharani Zoo & Goa ini tepat berada di seberang WBL. Kedua tempat wisata ini akan dihubungkan dengan jembatan penyeberangan yang dilengkapi dengan elevator. Untuk WBL, kata Direktur WBL Aris Wibawa, pada tahun 2007 pengunjungnya telah menembus angka 1 juta pengunjung, tepatnya 1.218.859 pengunjung. Dengan adanya Maharani Zoo & Goa ini, dipastikan pengunjung wisata Lamongan akan membludak.

Lokasi Goa Maharani ini mulai ditutup pada Agustus tahun 2007 lalu untuk memulai aktifitas pengerjaan Maharani Zoo & Goa. Diantara wahana yang ada di kawasan wisata eksotis ini adalah Geological & Goa, Gedung Animal Show, Puri Albino, Kandang Primata, dan Science Center. Di lokasi Goa Maharani ini akan diisi 11 wahana dan 81 kandang yang ditempati 300 macam binatang dari 111 species seluruh dunia baik dari Arika maupun Amerika Selatan.

Peningkatan jumlah pengunjung tersebut juga diikuti obyek wisata lainnya, Situs Makam Sunan Drajat meningkat hampir 100% dari tahun 2006 ke tahun 2007. Menurut Aris, jumlah pengunjung seluruh obyek wisata yang ada di kota Soto ini hingga akhir 2007 tercatat sebanyak 1.762,930.
Salah satu industri besar di Lamongan adalah LIS (Lamongan Integrated Shorebase) “ pelabuhan migas terpadu - yang berlokasi di Kecamatan Paciran. Disamping itu akan segera berdiri industri besar lain di kawasan pantai tersebut, seperti industri perkapalan, Kawasan Ekonomi Khusus dan industri baja. LIS sendiri akan segera menyaingi pelabuhan migas terpadu lain. Hingga kini, sembilan KPS (kontraktor production sharing) siap memanfaatkan layanan di pelabuhan yang dikelola PT Lamongan Integrated Shorebase tersebut, anak perusahaan BUMD PT Panca Wira Usaha (PWU) Jatim.

Keberadaan LIS di Lamongan ini merupakan bagian dari grand design pengelolaan kawasan khusus di kawasan utara Lamongan bersama Wisata Bahari Lamongan (WBL) dan kawasan pelabuhan ASDP (Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan).

PT LIS dengan komposisi kepemilikan saham 55 persen Pemkab Lamongan bersama Pemprop Jatim dan 45 persen dimilki pihak ketiga, sejak Desember 2005 telah dilakukan restrukturisasi total untuk menjadikan PT LIS sebagai BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) penuh yang telah diperkuat dengan Perda Kabupaten Lamongan. Sejak awal Januari 2007, berdasar Perda tersebut telah ada pernyataan bahwa Pemkab Lamongan merupakan salh satu pemilik dalam PT LIS
Beberapa waktu lalu, LIS juga menerima kunjungan dari mantan Walikota Bramenheaven Manfred Richter yang di dampingi Rainev Houvend dari Frederic Nauman Foundation German.

Dalam lawatannya ke kawasan LIS tersebut, Manfred Richter mengatakan bahwa arah perkembangan pembangunan yang dilakukan oleh Lamongan sudah tepat, bahkan sangat mirip dengan yang telah dikembangkan oleh kota Bramenheaven.

Kabupaten Lamongan dan kota Bremheaven, menurut Manfred Richter, memiliki kesamaan georafis, yaitu terletak diantara sungai. Lamongan terletek diantara sungai Bengawan Solo dan memiliki pantai. Sementara di kota Bramenheaven, kondisi geografisnya relatif sama, yakni memiliki pantai dan dialalui sungai sehingga menarik untuk dijadikan industri pariwisata. 

Menurut Manfred Richter, di Bramerheaven pemerintahnya mengembangkan pelabuhan dan pariwisata Bremerheaven memiliki industri perkapalan, perikanan dan membangun infrastruktur modern. Sedangkan Lamongan memilki LIS (industri) dan WBL (pariwisata) di kawasan utara.


Sumber:
http://www.maharanizoo.com/?artikel&pid=5
31 Januari 2009

Konsep Gila Lamongan Plaza


BUPATI Lamongan, Masfuk memukul gong sebagai tanda launching resmi Lamongan Plaza. Pusat perbelanjaan ini menyediakan 246 stand.

Masfuk yakin Lamongan Plaza sangat prospektif, menguntungkan dan akan membuat siapa saja yang memanfatkannya menjadi kaya yang panjang. “Sugihe sing dowo,“ katanya.

Lamongan Plaza dibangun dengan konsep gila (inovatif). Masfuk mencontohkan seperti halnya kesuksesan kawasan Wisata Bahari Lamongan (WBL). Sebelum WBL sukses dan empat tahun sudah balik modal, banyak yang bilang kepada Masfuk, bahwa dirinya gila.

“Nyatanya, sekarang sukses dan laku dijual. Untuk mewujudkan akselerasi pembangunan demi kesejahteraan masyarakat, harus dilakukan dengan cara yang gila (inovatif),“ ungkapnya.

Tujuan pembangunan plaza pertama di Lamongan ini agar bisa dinikmati masyarakat Lamongan. Tentu saja, bagi masyarakat Lamongan yang bisa dan mau memanfaatkan kesempatan. Meski plaza itu milik pemkab, tapi pengelolaannya dilakukan secara professional.

Djoko Purwanto, asisten Ekonomi Pembangunan Setdakab Lamongan  menambahkan, Lamongan Plaza menjadi bagian dari revitalisasi Pasar Lamongan Raya menjadi Lamongan Plaza dan Pasar Modern Lamongan.

Lamongan Plaza menempati areal seluas 7.382 m2 dan dibangun tiga lantai dengan total unit kios/stan mencapai 246 unit. Sementara Pasar Modern Lamongan dibangun dua lantai seluas 2.264b meter persegi dengan 342 kios/stan.

Pasar ini tetap menyediakan fasilitas untuk PKL, nasi boran, kios buah, pangkalan ojek dan becak sementara Lamongan Plaza menyediakan fasilitas departemen store, food court, arena permainan, eskalator dan lift barang. (hs)


Sumber:

http://www.ritelonline.com/berita/konsep-gila-lamongan-plaza.html/

30 Oktober 2009

Sumber Gambar:

http://img13.imageshack.us/i/laplaza2.jpg/